6.12.08

Re: [media-bali] Bertanya Alamat Kantor AXIS Bali

Halo Mbak Meidiana,

Kebetulan saya tahu, ini alamatnya:

Jl. Raya Puputan No. 53, Renon - Denpasar.
Kalo dari arah Lapangan Puputan ke Jl. Sartika, sebelum Bumbu Desa di tikungan sebelah kiri sejajaran dengan Bumbu Desa.
Semoga membantu.

Teima kasih dan salam,
Dwi Setijo Widodo




From: Anastasia Maria <taurin_09@yahoo.com>
To: media-bali@yahoogroups.com
Sent: Tuesday, December 2, 2008 1:29:55 PM
Subject: [media-bali] Bertanya Alamat Kantor AXIS Bali

Selamat Siang teman2,
 
Mohon bantuannya ya...bagi yang mengetahui alamat kantor operator AXIS Telecomunication yang ada di denpasar, katanya daerah renon..tapi saya tidak tahu alamat yg jelas....saya minta bantuannya ya...trims.. ...
 
Salam Kenal
Meidiana


__._,_.___

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

5.12.08

[media-bali] Mohon info tempat wisata Bali yang wajib dikunjungi

Dear all,


Saya rencana mau ke Bali dalam waktu dekat ini, untuk mengisi waktu
senggang ingin liat2 tempat2 wisata di Bali yang katanya sangat
eksotik. Mohon referensi dari teman2 tempat wisata yang bagus di Pulau
Dewata, dan kalau bisa beserta harga tiket masuknya juga ya biar saya
ada persiapan untuk dana.


Thanks ya

Qino


------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/media-bali/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/media-bali/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:media-bali-digest@yahoogroups.com
mailto:media-bali-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
media-bali-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

[media-bali] Press Release "Post Ethnology Museum" by Heri Dono at Gaya Art Space

 
 
FOR IMMEDIATE RELEASE

Title:                     Post-Ethnology Museum
Artist:                   Heri Dono
Curator:               Mikke Susanto
Genre:                  Painting and Installation
Period:                 December 13th, 2008 - January 13th, 2009
Opening:             December 13th, 2008 at 07.00 PM
Daily Opening:    9 AM - 10 PM
Place at:              Gaya Art Space
                            Jalan Raya Sayan, Ubud
                             Ph. 0361 979252 / 979253

 

POST-ETHNOLOGY MUSEUM

Sejumlah material museum etnologi di dunia menyuguhkan material yang didapat dari Kolonialisme dan Imperialisme. Museum seperti melegitimasi "hobi" para penguasa. Sebuah tindak lanjut tentang semangat penaklukan dan ekspansi. Sejumlah material museum adalah barang pampasan perang. Sekali lagi seperti sebuah tindak lajut: mobilisasi citra sebuah bangsa dan ekspresi "sang liyan" ke lingkup sebuah bangsa yang berbeda, yang mencaploknya. Kebiasaan mengoleksi dengan cara semacam ini telah berlangsung sejak abad ke-16 atau sering disebut dengan Abad Penemuan (The Age of Discovery). Bahkan rekan saya setelah dari museum Louvre pernah berujar, "Wah, banyak barang jarahan yang kita tonton, tak semua adalah milik Paris".
Museum etnologi umumnya terdiri dari material atau artefak dari negara-negara ketiga--sepertinya saat ini lebih banyak dikatakan negara baru, meskipun tak sebenar-benarnya baru--seperti Afrika dan Oceania. Secara positif, penyataan ini mengadung sebuah arti bahwa museum (etnologi) berfungsi untuk mengontribusi unit nasionalisme atau grup-grup budaya yang berbeda untuk dipresetasikan pada khalayak yang berbeda pula.
Etnologi sendiri dipercaya sebagai sebuah ilmu tentang bangsa dan budaya. Mereka mempelajari unsur-unsur dan masalah-masalah kebudayaan suku bangsa dan masyarakatnya secara komprehensif. Tujuannya untuk mendapatkan pengertian mengenai sejarah dan proses evolusi serta sebaran budaya umat manusia di muka bumi. Terutama dalam dunia ilmiah di Eropa Kontinental (Skandinavia, Belanda, Jerman, Austria).
Namun di tahun 1930 timbul perpecahan di kalangan para ahli etnologi. Beberapa tokoh baru, terutama dari Inggris berpendirian agar ilmu etnologi jangan mempelajari kebudayaan di dunia hanya untuk mempelajari sejarah evolusi dan sebaran budayanya, melainkan seharusnya mempelajari kebudayaan di dunia secara komparatif untuk merumuskan generalisasi tentang masalah kebudayaan serta mengembangkan kaidah-kaidah tentang kehidupan masyarakat dan kebudayaan umat masyarakat.
Tokoh seperti Radcliffe-Brown mengembangkan gagasan mengenai tujuan ilmu bangsa-bangsa baru ini. Mereka menyebut ilmu bangsa-bangsa yang lama dengan istilah etnologi, sedang ilmu bangsa-bangsa baru disebut ilmu antropologi sosial. Dalam kajian sejarah, mereka menyebutnya sejarah etnis atau etnohistori. Menurut pengertian sekarang, etnohistoris merupakan studi tentang suku-suku bangsa non-Eropa. Konsep semacam ini secara sistemis mulai berkembang pada 1940an, ketika para ahli antropologi Amerika Serikat mempelajari penduduk asli (Indian) di dunia baru itu. Maka, kini berkelindan pengertian bahwa sesuatu yang etnografis adalah sesuatu yang archaic, yang mencerminkan kemasgulan berpikir dan menghasilkan budaya yang bersifat magis tanpa rasio.
Postmodern membuka mata banyak orang, termasuk Heri Dono untuk membongkar semua itu. Heri Dono kali ini ingin "menyela". Ia ingin memberi peluang baru, setidaknya pada dirinya sendiri sebagai orang yang menonton dirinya sendiri. Bukan orang lain yang menonton kita.

***
Heri Dono telah menyaksikan sejumlah museum besar di banyak negara. Kali ini ia ingin mempermainkan peran museum yang selama ini juga turut mengganggu pikirannya. Heri Dono ingin mengonstruk ulang peran museum dan mungkin juga etnologi itu sendiri. Setidaknya Heri Dono sedang menawarkan sebuah ruang berpikir mengenai "museum sebagai subject matter, bukan sebagai media".
Heri Dono sendiri mengungkapkan bahwa karya-karya yang tersaji dalam pameran ini menunjukkan proses penciptaan karya seni yang beragam dan plural dalam wacana yang memiliki nilai-nilai filosofi lokal sebagai referensi atau daftar pustaka yang paling sering tidak sama dengan konsep-konsep seni Modern, yang memiliki kesejarahan dan benang merah dengan dimulainya Renaissance di Eropa sampai sekarang. Artinya Heri Dono ingin meninjau ulang cara pemaknaan objek maupun siklus berpikir tentang pengalaman seseorang. Ia ingin mendekonstruksi perihal cara padang terhadap objek (atau figur) tentang Timur yang telah lama dikenalnya. Inilah telaah dan makna 'Post' dalam judul pameran ini.
Terdapat banyak kontradiksi dalam upaya mendefinisikan kata Post disini. Sebagai contoh dalam wacana Post-modernisme. Upaya apapun dalam mendefinisikannya, menghasilkan dan mengundang munculnya masalah-masalah, pula sama artinya dengan mendefinisikan yang bukan Pascamodernisme-kontradiksi logis menurut Dick Hebdige dalam Hiding In the Light. Menyangkut terminologi, khususnya makna awalan post dalam istilah ini memberi banyak makna, 'kelanjutan dari', 'reaksi terhadap', 'kritik terhadap', 'revolusi menentang', 'dekonstruksi dari', 'perpecahan dengan', 'keterputusan dari', atau 'persimpangan dengan' modernisme? Bagi sebagian besar pemikir, makna istilah ini kemudian bergantung pada khasanah apa yang akan dipakai. Sebagai contoh Charles Jencks, seorang pemikir dan arsitek, mendefinisikan sebagai "ekletikisme atau adhosisme radikal", dan Jean Francois Lyotard, pemikir dari Prancis memaknai dengan "bagian dari modern" dengan mengungkapkan bahwa dalam posisinya Pascamodernisme menyajikan dengan menolak pesona bentuk-bentuk yang indah, dan cenderung mencari bentuk-bentuk penyajian baru serta tidak untuk menikmatinya tetapi untuk membangkitkan perasaan ketidakmungkinan penyajian tersebut.
Dari metafora yang diambil saja, Heri Dono menegaskan bahwa 'benda-benda'--saya sebut 'benda' karena telah teronggok sebagai objek--semacam primata, Gandhi, kera, kraton sebagai sesuatu yang amat berharga. Inilah yang sering dicap "Timur", dilabeli sebagai sesuatu "lokal" oleh para pengamat Barat. Namun dalam pikiran Heri Dono, semua itu bukan sekadar sebentuk objek yang pasif, yang hanya ditonton dan dimaknai sebagai sesuatu 'yang lain'. Ia juga secara khusus selama ini misalnya menawarkan wayang dengan beragam karakteristiknya sebagai bentuk ekspresi seni alternatif dunia.

***
Semua hal di atas ini muncul dilatari oleh kebiasaan dan cara berpikir Heri Dono yang khas. Perupa ini telah mendayagunakan dengan sadar unsur-unsur visual secara bermakna. Bahkan menurut Hendro Wiyanto, teknik bayang-bayang yang dipetik dalam khasanah tradisi wayang untuk menyatakan ekspresinya yang radikal menyangkut tema-tema seni yang kontekstual. Pada karya Museum Ethnography (2001) yang dipamerkan di sini tidak bisa hanya dianggap sebagai sebentuk karya seni rupa semata.
Karya ini menggambarkan sebuah instalasi pertunjukan wayang kulit dalam kaleng kerupuk. Di dalam kaleng terdapat beberapa tokoh wayang beserta objek-objek lainnya. Sedangkan pada bagian dinding luar atas kaleng tertempel simbol kerajaan (lambang Keraton Yogyakarta). Dalam perspektif kebudayaan, karya ini mengemban tugas yang tak kalah penting: yaitu diangkatnya motif-motif dan bahan-bahan yang dipakai dalam lingkup sosial menjadi sebuah benda seni. Jelas sekali bahwa cara semacam ini telah menjadi perkara penting dan daya tarik tersendiri. Julie Ewington sendiri dalam tulisannya memaknai hal demikian sebagai sebuah terobosan yang khas di dalam perkembangan seni rupa Asia Tenggara. Ia menyebut pengambilan motif dan bahan semacam ini sebagai bagian dari "seni indigenous" yang merupakan contoh keberhasilan para perupa kontemporer dalam menerobos seni dunia.
Secara khusus karya Museum Etnografi ini seperti ingin mengangkat persoalan yang kini dianggap sebagai sesuatu yang archaic, kuno ataupun hal yang terasa klasik: Keraton atau Kerajaan. Di dalam perspektif Barat konsep "Kerajaan" menjadi bahan bicara dan wacana atas pergolakan ideologi masa kini. Heri Dono  mengemukakan isu ini sebagai temuan yang meyakinkan publik bahwa "kerajaan adalah ruang perebutan ideologis di masa lalu Indonesia", sehingga turut mempengaruhi sejarah lokal sebagai tanah jajahan.
Tanah yang dikotak-kotak karena perspektif Barat. Tanah yang didindingi seonggok kaleng. Kaleng kerupuk. Seperti camilan pengisi waktu luang. Secara sengaja ia mencipta ulang wacana ini sebagai material pemikiran. Ia mengartikulasi konsep pemikiran ideologi masa lalu dan konsep tanah jajahan (Orientalisme) sebagai material museum etnografi masa kini. Ia menawarkan kontradiksi-kontradiksi sembari mengingatkan, menggumuli kembali dan mungkin juga menyusun kembali wacana tersebut menjadi bahan ingatan dan memori terus-menerus.
Secara sengaja ia membuat perspektif yang mungkin biasa disebut "gado-gado". Karena begitulah Heri Dono. Selalu berupaya menciptakan peluang berpikir yang lain. Dalam pameran ini ia menciptakan peluang baru bagi museum etnografi. Ia mencari bentuk-bentuk penyajian baru: tidak untuk menikmatinya, tetapi untuk membangkitkan perasaan ketidakmungkinan penyajian tersebut. inilah museum baru Heri Dono.  +++

 

POST-ETHNOLOGY MUSEUM

Some of the world's ethnology museums display collections acquired during the period when their respective countries were major actors of Colonialism and Imperialism. These museum, to certain extent, justify the "pastime" of their rulers from that period. They become an extension of that period's spirit of  conquest and annexation. Scores of the museum's collections are spoils of wars in the past, a mobilized image of a nation and an expression of "The Other" ---the conquered—projected into the cultural space of the nation of conquerors.
The practices of collecting cultural artifacts through this method of  political and military conquest has been carried out since the 16th century, which is known as The Age of Discovery.
After visiting the Louvre, a friend of mine commented," Wow, a lot of the exhibited stuffs are war's loots, not all of the museum's collections truly belonged to Paris."
Ethnology museums' collections usually made up of artifacts from the third countries---presently viewed as the new countries, although their existences are not truly new---such as Africa and the Asia-Pacific. In a positive context, ethnology museums have  a role of presenting the cultural richness of different nations or cultural groups to audiences, who hailed from another array of different cultural groups.
Ethnology is believed to be a branch of knowledge that study nation and culture. It comprehensively investigates the cultural building blocks and problems of a nation or an ethnic group. It aims at gaining an understanding on the history, evolution process and cultural distribution of human populations in the world. Ethnology gained popularity in the academic circles of Continental Europe (Scandinavia, the Netherlands, German and Austria).
However, in 1930 a schism occurred. Several new figures in ethnology, particularly those from the U.K., believed ethnology should not solely focus on the evolution process and cultural distribution of  the examined cultures but should also investigate the world's cultures in comparative ways to determine the common prevailing cultural problems and develop the social and cultural norms of human populations.
Thinkers, like Radcliffe-Brown, constructed the objectives of this new science on nations. Ethnology is the old science, the new science  is social anthropology. The one that focuses on the historical perspective of culture is called etno-history. The contemporary definion of etno-history places  it as a study on and about non-European ethnic groups.
This definition has been systemically developed since the 1940s  when the U.S. anthropologists examined the Native Americans' cultures.
Naturally, ethnography is currently perceived as an archaic thing, something that stands for gullibility and a cultural construction that is both superstitious and irrational.
Postmodernism is an eye-opening paradigm for many people, including Heri Dono. Now, he wants "to interrupt". He wants to present a new opportunity, at least to his own self as a person who watches himself. It is not a stage where other people are watching us.

***
Heri Dono has visited major museums in various countries. This time he wants to re-interpret the roles of museum, the roles that have disturbed his mind for so long. Heri Dono wants to re-construct the roles of the museum, and, if possible, the very concept of ethnology. He offers a thinking space that treats "museum as  the subject matter, not as the medium."
Heri Dono disclosed that the art works displayed in this exhibit represent diverse processes of creation based on pluralistic discourses that placed  local values and philosophies at an equal, referential position with the concepts of modern arts, which have strong historical connection with the Renaissance in Europe.
It means Heri Dono wants to reconsider the way of interpreting the object and the cycle of thinking involved in comprehending a person's experience. He wants to de-construct  the established point of view concerning the East. This is the meaning behind the word "Post" on the title of the exhibit.
There has been many contradictions in the effort to define the word Post. For instance, in the Postmodernims discourses, any effort to define it will give birth to problems. Similar thing will take place when an effort is made to define  what Postmodernims is not. Dick Hebdige in his book Hiding in the Light calls this  phenomenon a logical contradiction.
Terminology-wise, the prefix Post has many meanings, such as "continuation", "response to", "critic at", "revolution against", "deconstruction of", "separation from", "disengage from" or "interchange with" modernism.
To a large number of thinkers, the meaning  will be very much determined by the  philosophical perspective utilized in dissecting the term. Architect Charles Jencks defines Postmodernims as "radical eccletism and adhosisme", while French thinker Jean Francois Lyotard defines it as "part of modern", stating that Postmodernism  rejects the charms of beautiful forms, and tends to look for new ways of presentation. The rejection and the search are not driven by the urge to consume the new forms but solely to evoke the sense of impossibility brought by the new forms.
From the metaphor utilized by Heri Dono, I could conclude that the "objects", such as the primate, Gandhi, the monkey, and the palace , are all precious stuffs.
These are the things that the Western pundits have often labeled as "East" and " local".
Yet, in the mind of Heri Dono, those "objects' are not just "passive objects", things that exist to be watched upon and being interpreted as "the other".
All these years, Heri Dono has also offered Wayang, and its colorful characters, as an alternative form of aesthetic expression to the world.

***
The aforementioned distinctive perspectives are the offsprings of Heri Dono's unique way of thinking and habit. This artist has deliberately constructed visual elements into a meaningful repertoire.
Bambang Hendro Wiyanto, praised Dono's utilization of shadows' manipulation, clearly inspired by the traditional shadow puppet Wayang, to convey his radical expression on contextual themes. Museum Ethnography (2001), Heri Dono's work displayed here, could not be comprehended as merely a fine art's creation.
The installation piece depicts a shadow puppet Wayang Kulit performance inside a can previously used to store kerupuk traditional crackers. Inside the can, several Wayang Kulit characters are placed alongside several objects. An insignia of the Yogyakarta Palace is attached to the outer side of the can.
From a cultural perspective, this work shoulders a heavy responsibility of transforming  elements and materials commonly found in social space into an art object. It is very obvious that such transformation has became an important issue that carries a powerful appeal.
Julie Ewington identifies this kind of work as the signature breakthrough of fine arts in Asia. The incorporation of traditional symbols and social elements, Ewington said, are part of the "indigenous art", an example of the contemporary artists' success in gaining a recognized place in the global stage.
Museum Etnografi seems like trying to explore an issue that currently is considered as an archaic, outdated or classical in nature; Palace and Kingdom. The concept of "Kingdom" has became a part of the Western's ongoing discourse on the struggle of contemporary ideologies. 
Heri Dono presents this issue as a finding, which convinces the public that " kingdom is the space of ideological struggle in Indonesia's past" and that past has influenced the local history; history of the  colonialized land.
Land that had been partitioned by the western perspectives. Land that had been bordered with a thin wall made of a can. A can that used to store kerupuk, a fragile snack for a boring free time. Heri Dono deliberately re-creates this discourse as a thinking material. He articulates the ideology of the past and the colonialized land concept (Orientalism) as the materials of the present-day ethnography museum.
He offers contradictions and simultaneously reminds, reviews and, possibly, reconstructs that discourse into a perennial collective memory.

Purposefully, he mixes and combines, thus, creating a perspective, which, is not dissimilar with the traditional salad "gado-gado". Because that's the very thing Heri Dono has always aimed at; creating an opportunity for alternative thinking. In this exhibit, he creates a new opportunity for the ethnography museum. He looks for new forms of presentations, not in order to enjoy them, but to evoke the sense of impossibility out of those new forms. This is Heri Dono's new museum.

― Mikke Susanto

Sources :
Hendro Wiyanto, Heri Dono, Jakarta: NADI Gallery, 2004.

Ivan Karp & Steven D. Lavine, Exhibiting Culture, The Poetics and Politic of Museum Display, Washington: Smithsonian Institution, 1991.

Julie Ewington, "Five Elements, An Abbreviated Account of Installation art in South East Asia", Art and Asia Pacific, January 1995.

 
Clinic Primata (installation), mixed media, 27 x 20 cm, 2001
 
Flying Angels (installation), mixed media, 30 x 45 cm, 1996
 
 

Jl. Raya Sayan, Ubud – Bali 80571
Phone. +62 361 979252/979253 Fax. +62 361 975895
Email. gaya@gayafusion.com Web. www.gayafusion.com
For further information please contact
Desak: 081 338 770097, Diana : 08123649300

__._,_.___

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Re: [media-bali] Bertanya Alamat Kantor AXIS Bali

anton baik ya

--- On Thu, 12/4/08, Anton Muhajir <antonemus@gmail.com> wrote:
From: Anton Muhajir <antonemus@gmail.com>
Subject: Re: [media-bali] Bertanya Alamat Kantor AXIS Bali
To: media-bali@yahoogroups.com
Date: Thursday, December 4, 2008, 10:43 AM


adanya di jl raya puputan, mbak. saya tidak tau alamat persisnya tp tau lokasinya.

kalo dari arah monumen bajra sandhi renon ke arah matahari jl dewi sartika, kantor ini ada di kiri jalan sebelum pengkolan.

gudlak..


On Tue, Dec 2, 2008 at 1:29 PM, Anastasia Maria <taurin_09@yahoo. com> wrote:

Selamat Siang teman2,
 
Mohon bantuannya ya...bagi yang mengetahui alamat kantor operator AXIS Telecomunication yang ada di denpasar, katanya daerah renon..tapi saya tidak tahu alamat yg jelas....saya minta bantuannya ya...trims.. ...
 
Salam Kenal
Meidiana




--
Anton Muhajir |  http://rumahtulisan .com

__._,_.___

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

[media-bali] Krisis Global Pengaruhi Hotel di Bali

Krisis Global Pengaruhi Hotel di Bali

Gatra.com - Krisis keuangan global memengaruhi pariwisata Bali. Beberapa kunjungan wisata yang sudah diagendakan, dibatalkan. "Saya perkirakan penurunannya  hingga 40 persen," ungkap PR sebuah hotel di Kuta.

Baca berita selengkapnya di
 
 
__._,_.___

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

4.12.08

[media-bali] LELANG AMAL UNTUK POLIO PLUS


Dengan hormat,

Untuk menggalang dana bagi pemberantasan Polio di dunia, maka Rotary Clubs se Bali mengadakan baazar yang akan dilaksanakan pada hari Minggu, tanggal 7 Desember, 2008 di ART CENTRE - DENPASAR mulai jam 09.00 -17.00 WITA.

Sehubungan dengan hal itu, Panitia memperoleh bantuan berupa vouchers yang akan dilelang melalui email. Mohon para Rotarian dapat membantu dengan melakukan bidding atas voucher yang kami tawarkan :

BIDING dapat dilakukan melalui email ke : rotaryb@yahoo.com

VOUCHERS

01.    GRAND MIRAGE RESORT, NUSA DUA
          2 nights stay at Superior Garden View including breakfast for 2

02.    BALI TROPIC RESORT AND SPA, NUSA DUA
         2 nights stay including breakfast for 2

03.   THE PATRA BALI RESORT, TUBAN
         1 night stay at Deluxe Room incl. breakfast for 2

04.   VILLA MAHAPALA SANUR
         2 nights stay at One Bedroom villa incl. breakfast

05.   AYODYA RESORT, NUSA DUA
         1 night stay at Deluxe Garden room incl. breakfast

06.   AYODYA RESORT, NUSA DUA
         1 night stay at Deluxe Garden room incl. breakfast

07.   SOFITEL SEMINYAK BALI
         2 nights stay at Superior Room incl. breakfast for 2

08.   DISCOVERY KARTIKA PLAZA, KUTA
         1 night stay at Ocean View Room incl. breakfast for 2

09.    ARMA RESORT UBUD
         1 night stay at Superior Villa incl breakfast and free admission to
         museum

10.   ANANTARA SEMINYAK RESORT & SPA, KUTA
         1 hour Balinese massage for 1 pax

11.   ASTON BALI RESORT & SPA
         Dinner for 2 pax at  Italian Resto, Georgio incl. 1 bottle of wine

12.   NIKKO BALI, NUSA DUA
         Dinner Voucher

13.   NOVOTEL BENOA, NUSA SUA
         One dinner voucher for 4 pax at Uluwatu Restaurant

14.   PICADILLY RESTAURANT
         1 dinner voucher

15.   PICADILLY RESTAURANT
         1 dinner voucher

16.   AQUA MARINE DIVING
         1 voucher of bubble maker for kid, and 1 diving adventure in USAT
         Libberty Ship Wreck Tulamben

17.    BALI ADVENTURE
          1 voucher elephant safari ride

18.    BALI ADVENTURE
          1 voucher white water rafting

19.    NUSA DUA BEACH HOTEL
         Spa treatment fro 2 pax.     

20.    KARMA RESORT JIMBARAN
          2 spa voucher for one hour body scrub down  

 

BIDDING PALING LAMBAT TANGGAL 6 DESEMBER, 2008 JAM 15.00

Salam,

Ina Ginting
Panitia

 

__._,_.___

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Re: [media-bali] Bertanya Alamat Kantor AXIS Bali


adanya di jl raya puputan, mbak. saya tidak tau alamat persisnya tp tau lokasinya.

kalo dari arah monumen bajra sandhi renon ke arah matahari jl dewi sartika, kantor ini ada di kiri jalan sebelum pengkolan.

gudlak..


On Tue, Dec 2, 2008 at 1:29 PM, Anastasia Maria <taurin_09@yahoo.com> wrote:

Selamat Siang teman2,
 
Mohon bantuannya ya...bagi yang mengetahui alamat kantor operator AXIS Telecomunication yang ada di denpasar, katanya daerah renon..tapi saya tidak tahu alamat yg jelas....saya minta bantuannya ya...trims.....
 
Salam Kenal
Meidiana




--
Anton Muhajir |  http://rumahtulisan.com
__._,_.___

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___